*PENDEKATAN SAINTIFIK ITU MUDAH*
Oleh :
IDRIS APANDI
(Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan/LPMP Jawa Barat)
Seorang anak mengeluhkan sakit gatal di telinganya. Dia bertanya kepada orang tuanya mengapa telinga bisa gatal? Dan bagaimana cara mengobatinya? Orang tua mencoba memberikan jawaban atau penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan anak tersebut. Untuk melengkapi jawaban orang tuanya, dia mencari informasi melalui smartphonemilik orang tuanya. Dia browsing tentang obat gatal pada telinga.
Setelah menemukan beberapa link berita, dia membacanya dengan lantang dan disimak oleh orang tuanya. Pada berita itu, dia membaca tentang penyebab gatal pada telinga, larangan mengorek telinga terlalu dalam karena beresiko merusak gendang telinga, dan tips-tips membersihkan telinga yang baik sehingga dia bisa menyimpulkan tentang penyebab, dampak jika mengorek telinga terlalu dalam, obat sakit telinga, dan langkah-langkah membersihkan telinga dengan baik. Melalui membaca, dia pun tahu tentang struktur dan fungsi organ-organ telinga.
Setelah membaca artikel tersebut, dengan kesadaran sendiri, dia menghentikan kebiasaannya mengorek lubang telinga dengan cotton bud terlalu dalam, kemudian dia meminta disediakan baby oil untuk membersihkan bagian luar telinga karena berdasarkan artikel yang dibacanya, dia menjelaskan supaya telinga bersih dan sehat, bagian luar telinga harus dibersihkan dengan baby oil dan jangan membersihkannya sampai terlalu dalam supaya gendang telinga tidak rusak.
*Pendekatan Saintifik*
Dalam konteks kurikulum 2013, anak tersebut telah menerapkan pendekatan saintifik. Pendekatan didasari oleh rasa ingin tahu, ingin membuktikan, menemukan sesuatu, dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, dalam penerapannya dikenal adanya model pembelajaran berbasis proyek (project based learning), pembelajaran berbasis penyelesaian masalah (problem based learning), dan menemukan (discovery/ inquiry).
Karena didasari oleh keinginannya untuk mengobati gatal di telinganya, dia mencari banyak informasi, bertanya kepada pihak yang dinilainya mampu memberikan penjelasan, sehingga dia menjadi tahu, memahami, dan menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya.
Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu pengetahuan (tahu apa), sikap (tahu mengapa), dan keterampilan (tahu bagaimana) sehingga peserta didik memiliki karakter produktif, inovatif, kreatif, dan afektif.
Tujuan pendekatan saintifik adalah (1) untuk meningkatkan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. (2) untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik. (3) terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan. (4) diperolehnya hasil belajar yang tinggi. (5) untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah. Dan (6) untuk mengembangkan karakter siswa.
Pendekatan saintifik merupakan proses pembelajaran yang terdiri dari lima pengalaman belajar, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/ menalar, dan mengkomunikasikan. Kelima hal tersebut biasa disingkat dengan 5 M. Mengacu kepada kasus tersebut di atas, anak tersebut mengamati (membaca berita), menanya (bertanya kepada orang tuanya), mengumpulkan informasi (membaca dan bertanya kepada orang tuanya), mengasosiasikan/ menalar (mengolah informasi yang didapatkan dari membaca dan bertanya) dan mengkomunikasikan (menjelaskan atau menyampaikan hasil pengumpulan informasi yang didapatkan melalui proses mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi, dan menalar).
Menurut penulis, pendekatan saintifik sebenarnya adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh guru dalam pembelajaran. Suatu waktu, guru mungkin pernah meminta siswa untuk mengamati suatu objek, lingkungan, membaca, berdiskusi, menulis laporan kegiatan, dan mempresentasikan hasil kerjanya. Dan seiring dengan diimplementasikannya kurikulum 2013, hal tersebut disebut pendekatan saintifik.
Berdasarkan kepada uraian diatas, guru tidak perlu bingung untuk menerapkan begaimana pendekatan saintifik di dalam pembelajaran karena hal tersebut sebenarnya sudah biasa dilakukan. Guru hanya perlu mendorong siswa untuk berpikir kritis, memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk menyelesaikan masalah. Dengan sendirinya siswa akan pro aktif mencari penyelesaiannya, bukan diberi tahu oleh guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar